Selasa, 01 Juli 2008

Berpikir 2 kali sebelum bertindak karena emosi

Dikisahkan sepasang suami istri bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun bernama Ita, bersama sang pembantu di rumah.

Namanya juga anak-anak yang suka mengeksplorasi diri, Ita pun demikian. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah di halaman dengan lidi, sementara pembantunya menjemur kain dekat garasi.

Puas dengan mencoret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba untuk menggores-gores mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru, mobil tersebut jarang dipergunakan oleh ayahnya ke kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut dengan coretan gambar Ita.


Begitu ayahnya pulang, dengan bangga Ita memberitahu tentang gambar-gambar yang sudah dibuat di mobil baru ayahnya tersebut. Bukan pujian yang diterimanya, melainkan kemarahan yang sangat besar. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tidak mengawasi Ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anak, maka si ayah mulai mengajarkan anaknya, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pukulan. Dipukullah kedua telapak tangan dan punggung tangan anaknya dengan apa saja yang ditemukan di situ. Mulai dengan mistar, ranting, sampai lidi disertai luapan emosi yang tidak terkendali.
“Ampun,’pah! Sakit…sakit, ampun!”jerit Ita sambil menahan sakit di tangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Si ibu hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan oleh suaminya.
Puas menghajar anaknya, si ayah menyuruh pembantu untuk membawa Ita ke kamarnya. Dengan hati yang teriris, sang pembantu membawa Ita ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan, Ita menjerit-jerit menahan pedih. Esoknya tangan Ita mulai membengkak, sementara ayah ibunya tetap bekerja seperti biasa. Ketika dilaporkan oleh pembantunya, Ibu Ita hanya mengatakan,”Oleskan obat saja!”


Hari berganti hari, hingga suhu badan Ita mulai panas karena luka tangannya sudah terinfeksi. Ketika dilaporkan, orangtuanya pun hanya mengatakan supaya diberi obat penurun panas. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan Ita mulai menggigau. Buru-buru mereka membawa Ita yang sudah tampak melemah ke rumah sakit pada malam itu juga.

Hasil diagnosis dokter menyimpulkan bahwa demam Ita berasal dari tangannya yang sudah infeksi dan busuk akibat luka-lukanya. Setelah seminggu diopname di sana , dokter memanggil ayah dan ibunya dan mengatakan,”Tidak ada pilihan lain….”
Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena infeksi yang terjadi sudah terlalu parah.”Ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawa Ita, tangannya harus diamputasi!”

Mendengar berita ini, orangtua Ita bagai disambar petir. Dengan air mata berurai dan tangan yang bergetar, mereka menandatangani surat persetujuan amputasi anak yang paling dikasihinya.
Setelah sadar dari pembiuasn operasinya, Ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tangannya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi, dia melihat kedua orangtuanya dan pembantunya menangis disampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ita berkata kepada orangtuanya,”Papa…Mama, Ita tidak akan melakukannya lagi…Ita sayang Papa, sayang Mama, juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencoret-coret mobil Papa!” Si ibu dan ayah semakin menagis mendengar kata-kata Ita tersebut.
“Pah,sekarang tolong kembalikan tangan Ita, untuk apa diambil. Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti Ita mau main dengan teman-teman karena tangan Ita sudah diambil. Papa…Mama, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja. Ita mau menyalami Papa, Mama, dan Bibi untuk minta maaf!”
Menyesal bagi kedua orangtua Ita sudah tiada guna, nasi sudah menjadi bubur.
***

PEMBERIAN hukuman memang merupakan salah satu alat yang ampuh untuk menegakkan disiplin seseorang, naik dilingkungan keluarga maupun perusahaan. Hukuman yang efektif dan waktu yang tepat akan menghasilkan dampak perubahan tingkah laku optimal. Namun, pemberian hukuman mengindikasikan tindakan kuratif terhadap kesalahan yang sudah terjadi. Penemuan terbaru dari praktisi SDM saat ini adalah bagaimana mencegah terjadinya kesalahan melalui pemberian motivasi dan keteladanan yang maksimal.
Kenyataannya, banyak orang dengan bangga memberikan hukuman didepan orang lain, baik itu berupa teguran maupun tindakan disiplin lainnya. Bahkan, ketika hukuman diberikan, ada saja barang-barang yang ikut “terbang” menyertai pemberian hukuman tersebut. Hukuman, menurut sebagian besar kalangan lebih diarahkan pada pelampiasan kekesalan dan dendam pribadi, bukan perubahan tingkah laku sebagai tujuan pemberian hukuman itu sendiri.
Pemberian hukuman seyogianya tidak mengamputasi motivasi seseorang melakukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun perusahaan. Itulah sebabnya efektivitas pemberian hukuman harus adil dan hukum atau peraturan diberlakukan sama untuk semua orang yang berada dalam lingkungan peraturan tersebut. Seorang pakar hukum pidana pernah mengatakan,”Si pembuta peraturan harus keras pada dirinya sendiri untuk konsisten dengan aturan yang dibuat terlebih dahulu!”
Di sini keteladanan dimulai. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa aturan dibuat untuk semua, diberlakukan pada semua lapisan, dan konsekuensi pelanggaran aturan juga diterima oleh semua tanpa memandang jabatan, semioritas maupun popularitas, serta kekayaan.

Dikutip dari “Half Full – Half Empty”

Minerva

Gua mo beli motor baru nih... lagi kepincut sama Minerva 150R.... resemble dari Honda CBR dengan harga terjangkau...
Well mudah-mudahan dapat segera terealisasi... soalnya masih indent nih...
lagi bingung pilih warna apa ya?
Merah, silver, hitam atau biru ya? orang-orang terdekat sih recommend warna merah, tapi koq gw sendiri prefer silver or hitam ya.... tapi tetep pilih merah deh, walaupun pasaran tapi paduan merah dan hitam tuh... unique dan matching bgt....! berani tampil beda donk....
Kenapa ya akhir-akhir ini sering sesak nafas? well... keep positive thinking... I'm okay...
saya dapat fasilitas dari kantor untuk medical check up dengan limit up to 1,2 jt... tadinya mo pake sendiri, cuma pikir-pikir lebih baik budgetnya diberikan kepada bokap or nyokap yg mungkin lebih membutuhkan...
Mungkin udah kegendutan nih...

Kisah yg sangat menyentuh mengenai seorang anak beriman (Andoy)

ini adalah kisah nyata ......

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur
(Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah
berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir
sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andoy? Apakah kamu akan ke sekolah ?"

"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andoy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andoy sehingga suatu hari dia
berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

Terima kasih, Bapa Pendeta."

"Kenapa kamu tidak pulang sekarang?? Apakah kamu tinggal di Gereja
setelah pulang sekolah?"

"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya
di depan altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi
aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan anyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya .. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir.. aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa .. paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.

Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi. Tolong Tuhan ??

Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi
aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.

Tuhan. Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau mampu
menyembuhkannya, di sini .. di sini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan??

Tolong jangan marahi Ibuku ya??? dia hanya sedang lelah dan kuatir
akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukul kami.

Oh Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis
yang cantik di kelasku, namanya Anita ... menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku???

Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei .. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira ??

Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini
kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya. Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andoy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta.. Bapa Pendeta.. aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen
sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap
hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah .. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa
memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan
pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan
selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut memegangi rosario mereka ketika Andoy tiba dari
pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku ....'

"Kurang ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar!!!"

Andoy begitu terkejut, "Di mana Bapa Pendeta Agaton??? Dia
seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus - ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya .."

Ketika Andoy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah ... kamu akan
mendapatkannya!!!"

Oleh karena itu Andoy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian
menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Dia
mulai menyeberang. Ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan
kencang - di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andoy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar .. dan Andoy tewas seketika. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih
dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, "Maaf Tuan. Apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya ?"

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu
dalam segera berdiri dan berkata, "Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut
dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh
mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andoy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?"

"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andoy
terisak.

"Apa katanya ?"

Ayah Andoy berkata, "Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andoy sepertinya Dia begitu mengenal Andoy dengan baik.
Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut.

Dia menyibakkan rambut Andoy dari wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu ..."

"Apa yang dia katakan ?"

"Dia berkata kepada puteraku .." Ujar sang Ayah
"Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.
Engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. Semuanya itu terasa begitu indah .. aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta.. Siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada di sana setiap hari. Kecuali pada waktu puteraku meninggal .."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan
lutut gemetar dia berbisik," Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa ..
kecuali dengan Tuhan."

Touching Story mengenai seorang ibu...

DON'T HATE ME MOM !

SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA YANG TELAH DITERJEMAHKAN KEDALAM BAHASA INDONESIA

SAYA IBU TERBURUK DIDUNIA INI

Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini..., sebelum ajal menjemputku...

tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh... Sam, suamiku, memberinya nama Eric.

Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.

Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah... Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup.

Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya dengan beserta Eric yang sedang tertidur lelap. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang.

Setahun..., 2 tahun..., 5 tahun..., 10 tahun... telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Ia adalah seorang pastor di gereja St. Maria. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam... Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak... Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy!" Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?" "Nama saya Elic, Tante." "Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar di kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.

Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya.

Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric... Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu," tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak... Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian.

Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric... Eric... Saya
meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu.

Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apapun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja.

Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua.

Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau, "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!" Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Sayapun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan...!!!" Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. "Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan
deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Marry Scheleery

Rabu, 18 Juni 2008

Kenapa Hanya Ada Sedikit Orang Sukses ?

Selamat Pagi Readers...

Salam Sukses untuk semuanya.

Saya punya sedikit artikel yang mungkin bisa jadi bahan Renungan juga Smile

Mari Coba kita perhatikan.

- Ketika masih sekolah hanya ada beberapa anak yang dianggap pintar dan diprediksikan bermasa depan cerah.
- Di lingkungan tempat tinggal kita, hanya ada beberapa orang yang memiliki predikat kaya dan sukses.
- Di bisnis online sendiri, sepertinya hanya ada beberapa saja yang
benar-benar sukses.

Kita ambil bisnis online sebagai contoh kasus.

Anda akan menemukan ada beberapa reseller yang memiliki downline yang sangat
banyak, dan jumlahnya terus meningkat dengan cara yang signifikan. Sementara
sebahagian besar reseller lain angka perolehan downlinenya tidak bergerak
dari angka 2.

Padahal semua memulai dari nol, mengikuti program dan system yang sama. Dan
masing-masing sama memiliki jatah waktu 24 jam dalam satu hari.

Mengapa harus ada perbedaaan seperti itu?

Seakan-akan hanya ada beberapa orang saja di dunia ini yang memang telah
ditakdirkan untuk sukses meraih semua tujuan hidup mereka dengan mudah.
Sementara sebahagian besar orang harus berjuang keras dengan susah payah.

Benarkah demikian?

TIDAK!

Saya yakin. Mereka (orang-orang sukses) pasti BELAJAR MENCIPTAKAN IMPIANNYA!

MELAKUKAN apa yang mereka pelajari dan KONSISTEN tidak menyerah sebelum
traget tercapai.

Selain itu, hanya sedikit orang yang berpikir KENAPA SAYA BISA.
Sementara sebahagian besar lebih suka berpikir KENAPA SAYA TIDAK AKAN BISA.

Kenapa banyak orang lebih suka berpikir KENAPA SAYA TIDAK AKAN BISA?

Karena mereka perlu pembenaran terhadap kondisi mereka saat ini !

- Dengan berpikir TIDAK BISA, mereka tidak perlu bertindak apa-apa.
- Dengan berpikir TIDAK BISA, mereka tidak perlu mengorbankan atau memperjuangkan apa-apa.
- Dengan berpikir TIDAK BISA, mereka tidak perlu ada keringat yang menetes.

Bagi mereka, sukses akan datang dengan sendirinya nanti, Dan jika kesuksesan
itu tidak kunjung datang, mereka akan menyebutnya sebagai NASIB!

Mereka telah mengembangkan suatu sikap apatis, sinisme dan melihat peluang
sebagai jebakan alih-alih meraihnya.

Karena itulah hanya sedikit saja ada orang yang benar-benar sukses (kaya)
dan sebahagian besar lagi harus puas dengan dunia yang telah mereka ciptakan
sendiri.

HenrY Ford pernah berkata:
Entah anda berpikir anda BISA atau berpikir TIDAK BISA, ANDA BENAR!.

Yah, kesuksesan atau kegagalan, tepat berada dibalik apa yang kita pikirkan.

Mulai sekarang berpikirlah solutif…

KENAPA SAYA BISA!
KENAPA SAYA MAMPU!
KENAPA INI AKAN BERHASIL!

Sungguh, jawabannya akan membuka cakrawala kehidupan anda yang baru…